Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku berjudi


Bahwa perilaku berjudi memiliki banyak efek samping yang merugikan bagi si penjudi maupun keluarganya mungkin sudah sangat banyak disadari oleh para penjudi. Anehnya tetap saja mereka menjadi sulit untuk meninggalkan perilaku berjudi jika sudah terlanjur mencobanya. Dari berbagai hasil penelitian lintas budaya yang telah dilakukan para ahli diperoleh 5 (lima) faktor yang amat berpengaruh dalam memberikan kontribusi pada perilaku berjudi. Kelima faktor tersebut adalah:

1. Faktor Sosial & Ekonomi
    Bagi masyarakat dengan status sosial dan ekonomi yang rendah perjudian seringkali
    dianggap sebagai suatu sarana untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Tidaklah
    mengherankan jika pada masa undian SDSB di Indonesia zaman orde baru yang lalu,
    peminatnya justru lebih banyak dari kalangan masyarakat ekonomi rendah seperti tukang
    becak, buruh, atau pedagang kaki lima. Dengan modal yang sangat kecil mereka
    berharap mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya atau menjadi kaya dalam
    sekejab tanpa usaha yang besar. Selain itu kondisi sosial masyarakat yang menerima
    perilaku berjudi juga berperan besar terhadap tumbuhnya perilaku tersebut dalam
    komunitas.

2. Faktor Situasional
    Situasi yang bisa dikategorikan sebagai pemicu perilaku berjudi, diantaranya adalah
    tekanan dari teman-teman atau kelompok atau lingkungan untuk berpartisipasi dalam
    perjudian dan metode-metode pemasaran yang dilakukan oleh pengelola perjudian.
    Tekanan kelompok membuat sang calon penjudi merasa tidak enak jika tidak menuruti
    apa yang diinginkan oleh kelompoknya. Sementara metode pemasaran yang dilakukan
    oleh para pengelola perjudian dengan selalu mengekspose para penjudi yang berhasil
    menang memberikan kesan kepada calon penjudi bahwa kemenangan dalam perjudian
    adalah suatu yang biasa, mudah dan dapat terjadi pada siapa saja (padahal
    kenyataannya kemungkinan menang sangatlah kecil). Peran media massa seperti televisi
    dan film yang menonjolkan keahlian para penjudi yang “seolah-olah” dapat mengubah
    setiap peluang menjadi kemenangan atau mengagung-agungkan sosok sang penjudi,
    telah ikut pula mendorong individu untuk mencoba permainan judi.

3. Faktor Belajar
    Sangatlah masuk akal jika faktor belajar memiliki efek yang besar terhadap perilaku
    berjudi, terutama menyangkut keinginan untuk terus berjudi. Apa yang pernah dipelajari
    dan menghasilkan sesuatu yang menyenangkan akan terus tersimpan dalam pikiran
    seseorang dan sewaktu-waktu ingin diulangi lagi. Inilah yang dalam teori belajar disebut
    sebagai Reinforcement Theory yang mengatakan bahwa perilaku tertentu akan
    cenderung diperkuat/diulangi bilamana diikuti oleh pemberian hadiah/sesuatu yang
    menyenangkan.

4. Faktor Persepsi tentang Probabilitas Kemenangan
    Persepsi yang dimaksudkan disini adalah persepsi pelaku dalam membuat evaluasi
    terhadap peluang menang yang akan diperolehnya jika ia melakukan perjudian. Para
    penjudi yang sulit meninggalkan perjudian biasanya cenderung memiliki persepsi yang
    keliru tentang kemungkinan untuk menang. Mereka pada umumnya merasa sangat yakin
    akan kemenangan yang akan diperolehnya, meski pada kenyataannya peluang tersebut
    amatlah kecil karena keyakinan yang ada hanyalah suatu ilusi yang diperoleh dari
    evaluasi peluang berdasarkan sesuatu situasi atau kejadian yang tidak menentu dan
    sangat subyektif. Dalam benak mereka selalu tertanam pikiran: “kalau sekarang belum
    menang pasti di kesempatan berikutnya akan menang, begitu seterusnya”.

5. Faktor Persepsi terhadap Ketrampilan
    Penjudi yang merasa dirinya sangat trampil dalam salah satu atau beberapa jenis
    permainan judi akan cenderung menganggap bahwa keberhasilan/kemenangan dalam
    permainan judi adalah karena ketrampilan yang dimilikinya. Mereka menilai ketrampilan
    yang dimiliki akan membuat mereka mampu mengendalikan berbagai situasi untuk
    mencapai kemenangan (illusion of control). Mereka seringkali tidak dapat membedakan
    mana kemenangan yang diperoleh karena ketrampilan dan mana yang hanya kebetulan
    semata. Bagi mereka kekalahan dalam perjudian tidak pernah dihitung sebagai
    kekalahan tetapi dianggap sebagai “hampir menang”, sehingga mereka terus memburu
    kemenangan yang menurut mereka pasti akan didapatkan. (Sumber: e-psikologi.com)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar